Implementasi Pranoto Mongso dalam Pertanian Masyarakat Kabupaten Trenggalek: Meningkatkan Ketahanan Pangan Melalui Kearifan Lokal

Kabupaten Trenggalek, yang terletak di pesisir selatan Jawa Timur, memiliki potensi besar dalam sektor pertanian. Namun, tantangan yang dihadapi petani di daerah ini adalah fluktuasi cuaca yang tak menentu serta keterbatasan pengetahuan mengenai teknologi pertanian yang modern. Oleh karena itu, implementasi konsep Pranoto Mongso yang berbasis pada kearifan lokal semakin relevan untuk dijadikan solusi dalam meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Trenggalek.

Pranoto Mongso merupakan konsep tradisional yang mengajarkan kepada masyarakat tentang pengelolaan sumber daya alam, terutama dalam bidang pertanian, dengan memanfaatkan pengetahuan tentang musim dan waktu yang tepat untuk menanam serta merawat tanaman. Konsep ini memiliki nilai luhur yang sudah dikenal turun-temurun oleh masyarakat Trenggalek, yang mengedepankan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Dalam kegiatan kuliah praktisi yang digelar di Aula Bukit Jaaz Permai pada hari Senin 27 Oktober 2025 Pukul 19.00-22.00 WIB sejumlah akademisi Departemen Geografi dan praktisi berkumpul untuk mendiskusikan implementasi Pranoto Mongso dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Kegiatan ini diadakan dengan tujuan untuk menyosialisasikan metode yang berbasis kearifan lokal kepada petani di Trenggalek kepada mahasiswa Pendidikan Geografi, agar mereka mendapatkan bekal pengetahuan dan nantinya diharapkan dapat memanfaatkan secara maksimal di tengah tantangan globalisasi dan perubahan iklim.

Pemateri dalam kuliah praktisi ini adalah Dr. Imam Nurhadi, S.P., M.Agr., Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Trenggalek. Dalam sesi tersebut, Dr. Imam menjelaskan bahwa penerapan Pranoto Mongso tidak hanya berfokus pada teknik pertanian tradisional, tetapi juga mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan aplikasi berbasis cuaca untuk memprediksi waktu yang tepat untuk penanaman, serta penggunaan pupuk organik yang ramah lingkungan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.

Tak hanya itu, Dr. Imam juga menekankan pentingnya pemahaman pola musim yang ada di sekitar mereka, serta bagaimana cara memaksimalkan potensi lahan yang mereka kelola. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kapan waktu yang tepat untuk menanam dan merawat tanaman, petani dapat mengurangi kerugian akibat kegagalan panen yang sering terjadi karena perubahan cuaca yang tak terduga.

Para peserta kuliah praktisi mengungkapkan antusiasme mereka terhadap konsep ini, dan berharap agar program semacam ini bisa terus digelar untuk memperdalam pengetahuan mereka. “Kearifan lokal seperti Pranoto Mongso sangat penting untuk kita pelajari. Dengan memadukannya dengan teknologi yang ada, kami percaya hasil pertanian kami bisa lebih optimal,” ujar salah satu petani yang turut hadir.

Dengan penerapan Pranoto Mongso secara luas, Kabupaten Trenggalek diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Melalui upaya bersama antara masyarakat, pemerintah, dan pihak akademis, harapannya adalah meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga keberlanjutan alam di sekitar mereka.

Views: 45