
Departemen Geografi di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM) menginisiasi program pembelajaran lapangan strategis bagi 146 mahasiswa Program Studi S1 Geografi pada 15 April 2026. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh perlunya pemahaman mendalam mengenai dinamika geomorfologi aeolian yang unik di Indonesia. Sebagai bagian dari upaya universitas menyediakan sumber daya pendidikan yang berkualitas, program ini memberikan akses pembelajaran yang luas bagi mahasiswa untuk mengobservasi secara langsung ekosistem yang rentan terhadap tekanan antropogenik dan perubahan lingkungan global.

Program ini bertujuan untuk membangun kemitraan pendidikan yang inklusif dan strategis guna meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam analisis kewilayahan. Selain itu, kegiatan ini dirancang untuk mewujudkan pendidikan terjangkau berbasis pengalaman lapangan yang mengintegrasikan teori akademik dengan tantangan nyata di sektor pengelolaan wilayah pesisir.

Kegiatan dilaksanakan selama satu hari penuh dengan total akumulasi 32 jam pelatihan (service hours) bertempat di Badan Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir (BGPGP), Parangtritis, Kabupaten Bantul, DIY. Metodologi yang digunakan mencakup pendekatan studi museum, simulasi laboratorium menggunakan alat pergerakan sedimen, serta observasi lapangan secara sinkronus. Sebanyak 6 dosen pembimbing dan 6 instruktur ahli dari BGPGP memandu mahasiswa dalam melakukan pengukuran meteorologi-klimatologi, hidrologi, serta biogeografi di kawasan Laguna Depok dan Muara Opak.

Pelaksanaan kegiatan ini mencatat hasil yang signifikan, di mana 146 mahasiswa berhasil menyelesaikan modul observasi teknis dan pencatatan data lapangan secara komprehensif. Terdata pula optimalisasi 32 jam pelatihan efektif yang memperkuat pemahaman praktis di luar ruang kelas tradisional. Manfaat program ini juga meluas hingga kepada masyarakat di sekitar lokasi melalui perumusan awal pemetaan risiko bencana pesisir. Ferryati Masitoh, S.Si., M.Si., selaku dosen pembimbing menekankan signifikansi kegiatan ini dengan menyatakan: “Kegiatan di Gumuk Pasir ini memberi pengalaman belajar yang tidak bisa digantikan di kelas, karena mahasiswa melihat langsung proses alam sekaligus memahami tantangan pengelolaannya.”

Inisiatif ini merupakan perwujudan nyata dari SDG 4 melalui kemitraan pendidikan yang memperkuat kualitas pembelajaran tinggi. Secara ekologis, kegiatan ini memberikan edukasi perubahan iklim (SDG 13) yang sangat krusial dalam menyusun rencana keberlanjutan kawasan pesisir melalui strategi adaptasi iklim. Kolaborasi berkelanjutan antara UM dan BGPGP mencerminkan semangat SDG 17 dalam hal pertukaran pengetahuan dan penguatan kapasitas institusional. Lebih lanjut, fokus pada konservasi lingkungan di Gumuk Pasir mendukung SDG 15 terkait upaya restorasi lahan dan perlindungan habitat endemik. Mahasiswa juga diajak mendiskusikan potensi penghijauan yang tepat pada area zona inti agar tidak mengganggu karakteristik asli bentang alam aeolian. Tantangan utama yang dihadapi adalah fluktuasi cuaca ekstrem di lapangan yang menghambat presisi pengukuran alat simulasi. Kedepannya, direkomendasikan adanya integrasi program pelatihan guru geografi lintas daerah agar modul edukasi ini dapat terdiseminasi lebih luas, serta penyusunan protokol observasi digital untuk mempercepat analisis data spasial di lapangan.
Views: 6
Recent Comments