
Program Studi S2 Pendidikan Geografi, Departemen Geografi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM) menunjukkan komitmen nyata dalam pembangunan berkelanjutan melalui kegiatan pengabdian dan studi lapangan di Desa Wisata Ketapanrame, Kabupaten Mojokerto. Kategori kegiatan ini mencakup penguatan kapasitas riset dan pengabdian masyarakat berbasis lingkungan. Latar belakang kegiatan didasarkan pada urgensi integrasi antara teori akademik dengan dinamika pengelolaan wilayah di lapangan, mengingat Ketapanrame merupakan model desa wisata nasional yang menghadapi tantangan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekosistem.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi riset mahasiswa dalam mengidentifikasi praktik ramah lingkungan serta merumuskan strategi pengembangan ekonomi lokal yang inklusif. Selain itu, program ini dirancang untuk memperluas kemitraan pendidikan antara universitas dan desa binaan guna memastikan akses pembelajaran yang inklusif bagi civitas akademika dalam isu-isu global seperti perubahan iklim dan konservasi air.

Dilaksanakan pada 23–24 April 2026, kegiatan ini dipusatkan di kawasan Sumber Gempong dan Desa Ketapanrame. Metodologi yang digunakan meliputi observasi partisipatif, analisis spasial kualitas air, serta diskusi terfokus dengan pemangku kepentingan desa. Total durasi kegiatan mencapai 16 jam layanan akademik (service hours) yang melibatkan observasi mendalam terhadap infrastruktur lingkungan dan tata kelola air bersih desa.

Kegiatan ini melibatkan 12 dosen dan 25 mahasiswa sebagai pelaksana, dengan total partisipasi mencapai 50 orang termasuk perangkat desa dan pengelola wisata. Data menunjukkan tingkat keberhasilan program sebesar 100% dalam penyusunan draf awal artikel ilmiah berbasis potensi lokal oleh mahasiswa. Selain itu, ditemukan peningkatan pemahaman peserta sebesar 85% terkait teknik konservasi air pasca dilakukan workshop singkat. Prof. Sugeng Utaya selaku Ketua Pelaksana sekaligus Dosen S2 Pendidikan Geografi UM menegaskan, “Integrasi lapangan melalui kemitraan multi-pihak ini bukan sekadar kunjungan, melainkan upaya penguatan kapasitas akademik guna menghasilkan solusi konkret bagi tantangan dampak lingkungan di wilayah perdesaan serta menjamin akses pembelajaran yang berkualitas bagi mahasiswa melalui sumber daya pendidikan yang rill.”

Tantangan utama kegiatan ini adalah menghubungkan konsep akademik dengan praktik pengelolaan desa wisata yang kompleks di lapangan. Tantangan tersebut diatasi melalui observasi langsung, dialog dengan pemangku kepentingan lokal, dan analisis berbasis data empiris. Kegiatan ini mendukung SDG 4 melalui pembelajaran berbasis pengalaman dan penguatan kapasitas riset mahasiswa, SDG 8 melalui kajian ekonomi desa wisata yang mendukung kesejahteraan masyarakat, SDG 6 melalui edukasi konservasi sumber air, serta SDG 12 melalui evaluasi praktik pengelolaan wisata yang berkelanjutan. Berbicara mengenai masa depan kolaborasi akademis dan masyarakat ini, salah satu dosen pembimbing lapangan merefleksikan, “Lapisan teori di ruang kelas akan selalu berjarak dengan realita sebelum kita turun langsung. Ke depan, rekam jejak riset empiris seperti ini harus terus diproduksi demi melahirkan rekomendasi kebijakan yang mampu menghidupkan nadi pembangunan wilayah berbasis potensi lokal secara berkelanjutan.” Tantangan utama yang diidentifikasi adalah sinkronisasi antara regulasi tata ruang wilayah dengan laju investasi wisata. Rekomendasi strategis untuk masa depan adalah perlunya pengembangan sistem monitoring lingkungan digital dan penguatan kapasitas masyarakat lokal secara berkala melalui kolaborasi berkelanjutan agar konservasi sumber daya tetap menjadi prioritas di tengah peningkatan kunjungan wisatawan.
Views: 4
Recent Comments