Probolinggo, 15 November 2025, Ketersediaan teknologi pengolahan hasil pertanian yang semakin terjangkau membawa peluang besar bagi petani untuk meningkatkan nilai jual komoditas mereka. Hal tersebut menjadi latar belakang pelaksanaan program Pemberdayaan Kelompok Tani Bawang Merah Melalui Pelatihan Diversifikasi Produk yang dilaksanakan oleh dosen Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang (FIS–UM). Program ini merupakan bagian dari hibah Pengabdian kepada Masyarakat yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada tahun 2025.

Kabupaten Probolinggo dikenal sebagai salah satu sentra bawang merah di Jawa Timur. Tiga desa, yaitu Tegalrejo, Curah Sawo, dan Watuwungkuk, menjadi daerah dengan produksi bawang merah yang cukup stabil sepanjang tahun. Namun, tingginya produksi tidak selalu sejalan dengan pendapatan petani. Harga bawang merah memiliki fluktuasi ekstrem, terutama pada musim panen raya. Ketika suplai melimpah, harga di tingkat petani dapat turun drastis sehingga petani kesulitan memperoleh keuntungan yang memadai. Ketergantungan penuh pada penjualan bawang merah segar membuat posisi tawar petani semakin lemah.

Diversifikasi produk, misalnya menjadi bawang goreng, minyak bawang, atau bubuk bawang merah siap saji yang menawarkan jalur strategis untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas pasar. Sayangnya, belum semua kelompok tani memiliki keterampilan, peralatan, maupun pengetahuan yang memadai untuk melakukannya. Dengan pendekatan pemberdayaan, program tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga memfasilitasi proses belajar kolektif agar petani mampu mandiri dalam mengembangkan inovasi produk.

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, artinya petani tidak hanya menjadi sasaran, tetapi juga aktor aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Secara garis besar, pelaksanaan program meliputi:

1. Identifikasi Kebutuhan dan Pemetaan Sosial

Tim melakukan observasi lapangan untuk memahami kondisi sarana prasarana, kapasitas kelompok tani, karakter produksi, serta potensi pasar lokal. Desa Tegalrejo, Curah Sawo, dan Watuwungkuk menunjukkan kebutuhan serupa: teknologi pengolahan, manajemen usaha, dan pemasaran.

2. Pelatihan Diversifikasi Produk

Kegiatan utama berupa pelatihan langsung mengenai:

  • Teknik produksi bawang goreng renyah dan rendah minyak.
  • Pengenalan produk inovatif minyak bawang dan bubuk bawang merah.
  • Teknik pengemasan modern yang mendukung umur simpan lebih panjang.

Pelatihan dilakukan melalui metode demonstrasi, praktik bersama, dan evaluasi hasil produksi. Selain kemampuan produksi, kelompok tani dibekali dengan: Cara menghitung harga pokok produksi, Strategi branding sederhana, Pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace, Penyiapan legalitas usaha mikro.

Pelatihan ini menghasilkan peningkatan keterampilan signifikan di ketiga desa sasaran. Beberapa capaian awal antara lain:

  • Kelompok tani mulai membuat rumah produksi dan mencoba menghasilkan bawang goreng dengan standar kualitas lebih seragam.
  • Produk baru seperti minyak bawang merah sudah berhasil diuji coba rasa dan kualitas.
  • Anggota kelompok tani menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam memasarkan produk secara daring.
  • Kelompok mulai membahas pembentukan unit usaha bersama untuk memperkuat skala produksi.

Walaupun dampak ekonomi penuh belum dapat terlihat dalam waktu singkat, peningkatan kapasitas teknis dan penguatan jejaring pasar menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha diversifikasi. Program Bantuan Operasional Pengabdian kepada Masyarakat ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi pada Batch III Skema PKM dengan nomor 11.9.23/UN32.14.1/PM/2025 tahun Anggaran 2025.

Views: 81