Malang, Kompas – Malang 05 Mei 2024. Dalam menghadapi ancaman krisis iklim global, Himpunan Mahasiswa Departemen Geografi “VOLCANO” dari Universitas Negeri Malang menyelenggarakan Workshop WebGIS bertema “Strategi Pemetaan dalam Menganalisis Dampak Fenomena Peningkatan Suhu Udara terhadap Persebaran Invasif Gulma pada Lahan Pertanian.” Workshop ini digelar secara daring dan diikuti oleh 160 mahasiswa dari 30 universitas di seluruh Indonesia, dengan tujuan untuk mengasah pemahaman, keterampilan, serta pemanfaatan teknologi geospasial dalam mengatasi dampak perubahan iklim.
Acara ini mengangkat peran Geographic Information System (GIS) dalam pengelolaan perubahan iklim, khususnya di sektor pertanian. Dalam konteks kenaikan suhu global, peningkatan gulma invasif menjadi masalah yang signifikan, karena tanaman pengganggu ini dapat memengaruhi produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada hasil tani. “Fenomena iklim ini nyata. Dengan GIS, kami berharap bisa lebih tepat dalam memetakan daerah yang rentan dan merancang langkah mitigasi agar hasil tani tidak terdampak drastis,” ungkap Ketua Departemen Penalaran Himpunan Mahasiswa Geografi “VOLCANO.”

Workshop ini juga memberikan pemahaman tentang penggunaan aplikasi ArcGIS Online, yang memungkinkan kolaborasi dan analisis spasial berbasis geografi. Mahasiswa diajarkan konfigurasi perangkat lunak, cara berbagi konten geospasial, serta membuat operation dashboard yang dapat menampilkan data persebaran gulma invasif di lahan-lahan pertanian. “Penguasaan teknologi GIS ini akan membantu kami menjadi pelopor di bidang mitigasi lingkungan, sekaligus meningkatkan sumber daya manusia Indonesia di bidang geografi,” ujar Ketua Panitia Workshop WebGIS.
Salah satu isu yang mendasari kegiatan ini adalah letak Indonesia pada lintang rendah, yang menjadikan negara ini sangat rentan terhadap perubahan iklim global. Dampaknya pun signifikan, mulai dari kerugian ekonomi akibat lahan pertanian yang menurun produktivitasnya hingga peningkatan biaya dalam pengendalian gulma. Dengan pemetaan berbasis GIS, pola persebaran gulma invasif dapat dianalisis, area rawan dapat diidentifikasi, dan strategi pengendalian yang efektif dapat disusun.
“Teknologi GIS memberi kami kesempatan untuk memvisualisasikan data iklim dan pertanian secara komprehensif. Ini bukan hanya langkah mitigasi, tapi juga refleksi atas tanggung jawab generasi muda untuk ikut serta dalam menjaga keberlanjutan bangsa,” tambah salah satu pemateri dari Universitas Negeri Malang.

Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan teknologi mutakhir, sekaligus menggugah kesadaran akan tanggung jawab kebangsaan di era disrupsi teknologi yang menuntut tindakan nyata. Melalui inovasi pemetaan dan analisis spasial, Himpunan Mahasiswa Geografi “VOLCANO” menunjukkan bahwa krisis iklim dapat dihadapi dengan kolaborasi dan pemanfaatan teknologi yang relevan.
Views: 38
Recent Comments